Gelombang Tarif AS Guncang Adidas, Konsumen Terdampak

Gelombang Tarif AS Guncang Adidas, Konsumen Terdampak

Gelombang tarif impor Amerika Serikat (AS) kini tak hanya menjadi isu makroekonomi, tetapi merambat langsung ke kantong konsumen global. Raksasa pakaian olahraga asal Jerman, Adidas, menjadi salah satu korban terbarunya. Dengan proyeksi beban biaya tambahan mencapai €200 juta (sekitar Rp3,5 triliun) di paruh kedua tahun ini akibat tarif AS, perusahaan ini terpaksa mengambil langkah drastis: menaikkan harga produknya, secara spesifik di pasar Amerika Serikat. Ini bukan sekadar penyesuaian harga, melainkan cerminan nyata dari ketidakpastian ekonomi global yang terus bergejolak, dan bagaimana kebijakan proteksionis AS menciptakan riak domino yang mengancam stabilitas rantai pasok dunia serta daya beli konsumen.


Keputusan Adidas ini merupakan respons langsung terhadap tarif impor yang diberlakukan oleh pemerintah AS terhadap barang-barang yang diproduksi di negara-negara kunci pemasoknya, seperti Vietnam dan Indonesia. CEO Adidas, Bjorn Gulden, mengakui bahwa ketidakpastian seputar kebijakan tarif ini menjadi penghalang bagi perusahaan untuk meningkatkan proyeksi keuangan tahunannya, meskipun mencatat kinerja penjualan yang kuat di kuartal kedua tahun ini¹. Beban tambahan sebesar €200 juta ini diperkirakan akan langsung memengaruhi harga produk di pasar AS, memicu kekhawatiran akan potensi inflasi dan penurunan permintaan konsumen.

Tarif AS: Pukulan bagi Rantai Pasok Global dan Strategi Adidas

Kebijakan tarif yang diterapkan AS, khususnya di bawah pemerintahan Donald Trump, bertujuan untuk mendorong produksi domestik dan mengurangi defisit perdagangan. Namun, dampaknya meluas dan membebani perusahaan multinasional yang mengandalkan rantai pasokan global yang kompleks. Adidas, seperti banyak perusahaan pakaian dan alas kaki lainnya, memiliki jejak manufaktur yang luas di Asia, dengan Vietnam menyumbang sekitar 27% dari total volume produknya dan Indonesia 19%². Negara-negara ini, yang baru-baru ini mencapai kesepakatan perdagangan dengan AS, kini menghadapi tarif sebesar 20% untuk barang dari Vietnam dan 19% untuk produk dari Indonesia³.

Sebelum kebijakan tarif terbaru ini, impor alas kaki ke AS sudah dikenai bea masuk. Namun, tarif baru ini membuat bea masuk alas kaki dari Vietnam melonjak menjadi 46% dari sebelumnya 26%, dan dari Indonesia menjadi 43% dari 24%⁴. Kenaikan drastis ini secara signifikan meningkatkan biaya produksi dan distribusi bagi Adidas, yang pada akhirnya harus diteruskan kepada konsumen.

Bjorn Gulden menyatakan bahwa meskipun perusahaan menghadapi dampak negatif “puluhan juta euro” di kuartal kedua, beban yang diperkirakan mencapai €200 juta untuk sisa tahun ini adalah angka yang signifikan⁵. Ia menambahkan bahwa perusahaan belum tahu dampak akhirnya terhadap permintaan konsumen jika tarif ini memicu inflasi besar. Namun, satu hal yang pasti adalah bahwa kenaikan harga, jika terjadi, hanya akan berlaku di AS⁶. Ini menunjukkan upaya Adidas untuk melindungi pasar lain dari dampak kebijakan tarif AS.

Meskipun menghadapi tantangan tarif, Adidas mencatatkan kenaikan penjualan sebesar 7,3% menjadi €12,1 miliar di paruh pertama tahun ini, dengan laba sebelum pajak melonjak dari €549 juta menjadi €1 miliar². Penjualan sepatu naik 9% dan pendapatan pakaian naik 17% di kuartal kedua. Namun, ketidakpastian akibat tarif AS ini menghalangi perusahaan untuk menaikkan target laba operasional 2025 yang tetap pada €1,7 miliar hingga €1,8 miliar.

Dampak Domino: Industri Tekstil dan Alas Kaki Indonesia di Tengah Badai Tarif

Pengenaan tarif oleh AS tidak hanya berdampak pada Adidas secara langsung, tetapi juga secara tidak langsung memengaruhi negara-negara pemasok utama, termasuk Indonesia. Lembaga kajian Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mengungkapkan bahwa industri tekstil, pakaian jadi, dan alas kaki merupakan sektor yang paling terdampak oleh tarif impor AS sebesar 19% untuk produk Indonesia yang mulai berlaku pada 1 Agustus 2025⁷.

Peneliti Pusat Industri, Perdagangan dan Investasi Indef, Ahmad Heri Firdaus, menyoroti bahwa sektor-sektor ini merupakan penyumbang ekspor terbesar Indonesia ke AS, yang melibatkan banyak pekerja dari sektor informal hingga formal. Ia menekankan pentingnya bagi Indonesia untuk memiliki daya saing komparatif dan kompetitif. Meskipun tarif yang ditetapkan untuk Indonesia lebih rendah dibandingkan dengan negara kompetitor seperti Vietnam, India, Bangladesh, atau Malaysia, Heri memperingatkan bahwa tarif yang lebih rendah tidak secara otomatis membuat produk ekspor Indonesia lebih berdaya saing⁸. Faktor-faktor seperti biaya produksi (bahan baku, listrik, logistik, transportasi) juga harus diperhatikan.

Meskipun tarif baru ini berpotensi menekan harga jual produk Indonesia di AS menjadi lebih mahal, ada pandangan lain yang menyebutkan adanya peluang. Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa kesepakatan perdagangan antara Indonesia dan AS telah memicu masuknya pesanan (order) untuk produk unggulan seperti tekstil, pakaian, dan alas kaki⁹. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada tantangan, pasar AS tetap penting dan kesepakatan tarif dapat membuka jalur baru, meskipun dengan biaya yang lebih tinggi.

Perang Dagang dan Diversifikasi Rantai Pasok

Isu tarif ini tak lepas dari konteks perang dagang AS-China yang memanas dalam beberapa tahun terakhir. Meskipun Adidas telah mengambil langkah antisipatif dengan mendiversifikasi produksinya dari China ke negara-negara seperti Vietnam, Indonesia, dan Kamboja, mereka tetap rentan terhadap kebijakan tarif yang baru¹⁰. CEO Adidas, Kasper Rorsted (sebelum Bjorn Gulden), pernah menjelaskan pada tahun 2019 bahwa Adidas kurang terekspos langsung pada perang dagang AS-China karena sebagian besar produk yang dibuat di China memang ditujukan untuk pasar China itu sendiri¹¹. Namun, pergeseran produksi ke negara-negara Asia Tenggara justru menempatkan mereka dalam jalur langsung dampak tarif AS yang baru.

Perusahaan-perusahaan global seperti Adidas dan Nike telah berupaya merelokasi atau memperluas fasilitas produksi mereka di luar China untuk menghindari biaya tarif yang tinggi. Misalnya, Nike dilaporkan telah menutup pabrik di China dan memperluas fasilitas di Vietnam¹². Pergeseran rantai pasok ini memerlukan waktu bertahun-tahun dan investasi besar, serta tidak menjamin imunitas dari kebijakan tarif yang berubah-ubah.

Melihat ke Depan: Ancaman Inflasi dan Resiliensi Industri

Keputusan Adidas untuk menaikkan harga di AS menjadi contoh nyata bagaimana perusahaan global beradaptasi dengan lingkungan perdagangan yang tidak pasti. Ini menimbulkan pertanyaan besar tentang dampak inflasi terhadap daya beli konsumen dan potensi perubahan pola konsumsi. Jika tarif menyebabkan inflasi yang signifikan, permintaan terhadap produk-produk non-esensial seperti pakaian dan alas kaki bisa menurun, memengaruhi pertumbuhan pendapatan perusahaan.

Di sisi lain, perusahaan juga terus mencari strategi mitigasi, termasuk optimalisasi rantai pasokan, negosiasi dengan pemasok, dan diversifikasi pasar. Bagi negara-negara produsen seperti Indonesia, situasi ini menjadi dorongan untuk terus meningkatkan daya saing, efisiensi produksi, dan mencari pasar ekspor alternatif guna mengurangi ketergantungan pada satu pasar besar seperti AS.

Pada akhirnya, kisah Adidas dan tarif AS ini adalah mikrokosmos dari tantangan yang lebih besar dalam perdagangan global. Ini menyoroti pentingnya dialog perdagangan yang stabil, kebijakan yang prediktif, dan upaya kolaboratif antarnegara untuk memastikan bahwa industri dapat berkembang tanpa terbebani oleh ketidakpastian geopolitik yang terus-menerus. Dampak dari kenaikan harga ini akan menjadi ujian bagi loyalitas merek, strategi penetapan harga, dan ketahanan ekonomi konsumen di AS, sekaligus memaksa Adidas untuk terus berinovasi dalam menghadapi lanskap ekonomi yang dinamis dan penuh rintangan.

Referensi:

  1. Eurasia Business News, “Adidas Backs Outlook as Tariff Burden Lingers,” 30 Juli 2025, https://eurasiabusinessnews.com/2025/07/30/adidas-backs-outlook-as-tariff-burden-lingers/
  2. Gazeta Express, “Adidas to raise prices after US tariffs cost it 200 million euros more,” 30 Juli 2025, https://www.gazetaexpress.com/en/Adidas-to-raise-prices-after-US-tariffs-cost-it-200-million-euros-more/
  3. BNN Bloomberg, “Adidas may hike U.S. prices, flags US$231 million tariff cost,” 30 Juli 2025, https://www.bnnbloomberg.ca/business/company-news/2025/07/30/adidas-may-hike-us-prices-flags-us231-million-tariff-cost/
  4. detikFinance, “Perang Dagang Trump Bisa Bikin Harga Nike-Adidas Melambung,” 3 April 2025, https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-7853376/perang-dagang-trump-bisa-bikin-harga-nike-adidas-melambung
  5. Yahoo News, “Adidas says may hike US prices after tariff cost warning,” 30 Juli 2025, https://sg.news.yahoo.com/adidas-says-may-hike-us-124804037.html
  6. blue News, “Sporting goods: Adidas does not plan any price increases outside the USA due to tariffs,” 30 Juli 2025, https://www.bluewin.ch/en/news/adidas-does-not-plan-any-price-increases-outside-the-usa-due-to-tariffs-2806249.html
  7. NUSABALI.com, “Soal Tarif Impor AS 19 Persen, Industri Tekstil-Alas Kaki Paling Terdampak,” 22 Juli 2025, https://www.nusabali.com/berita/197482/soal-tarif-impor-as-19-persen-industri-tekstil-alas-kaki-paling-terdampak
  8. Tirto.id, “Tarif AS Tekan Lapangan Kerja Industri Tekstil dan Alas Kaki,” 21 Juli 2025, https://tirto.id/tarif-as-tekan-lapangan-kerja-industri-tekstil-dan-alas-kaki-heCm
  9. CNBC Indonesia, “Efek Kesepakatan RI-AS, Airlangga: Order Tekstil-Sepatu Mulai Jalan,” 23 Juli 2025, https://www.cnbcindonesia.com/news/20250723090721-4-651405/efek-kesepakatan-ri-as-airlangga-order-tekstil-sepatu-mulai-jalan
  10. Kompasiana.com, “DAMPAK PERANG TARIF AS-CHINA Terhadap SISTEM SUPPLY CHAIN PRODUK GLOBAL,” 14 April 2025, https://www.kompasiana.com/luthfimutaali4996/67fd1da1ed64156a242b0802/dampak-perang-tarif-as-china-terhadap-sistem-supply-chain-produk-global
  11. Suara.com, “Perang Dagang AS vs China Memanas, Harga Sepatu Adidas Tak Terpengaruh,” 12 Agustus 2019, https://www.suara.com/bisnis/2019/08/12/081639/perang-dagang-as-vs-china-memanas-harga-sepatu-adidas-tak-terpengaruh
  12. Kompasiana.com, “DAMPAK PERANG TARIF AS-CHINA Terhadap SISTEM SUPPLY CHAIN PRODUK GLOBAL,” 14 April 2025, https://www.kompasiana.com/luthfimutaali4996/67fd1da1ed64156a242b0802/dampak-perang-tarif-as-china-terhadap-sistem-supply-chain-produk-global

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *